Wednesday, July 11, 2007

Trully, Madly, Deeply

Sepekan kemarin saya disibukkan dengan agenda keluar kota. Masih di wilayah Sumatera Barat namun mengingat kondisi geografis apabila dibandingkan dengan di pulau Jawa jaraknya bisa antar propinsi, karena memakan waktu 4 jam perjalanan, sedangkan untuk pulau Sumatera jarak 4 jam perjalanan bisa saja antar kabupaten. Perjalanan saya tepatnya ke kabupaten Solok, kecamatan Surian. Saya harus kesana karena memang ada permintaan untuk mengisi acara pesantren kilat SMUN 1 Pantai Cermin bersama beberapa rekan. Awalnya tentang nama "Pantai Cermin" ada pertanyaan dibenak saya,"mana pantainya?" karena kita tidak akan menemukan pantai disana, salah seorang teman saya menjelaskan bahwa ternyata letak pantai justru jauh dari Surian, namun terdapat di Pesisir selatan yang memakan waktu 4 jam perjalanan lagi, dinamakan pantai cermin karena masyarakat disana beranggapan bayangan pantai terletak di kecamatan Surian tersebut, sedangkan letak pantainya di Pesisir Selatan. Terkadang saya justru berfikir justru pemikiran yang aneh dan tidak logis yang berkembang di masyarakat daerah.

Perjalanan menuju ke lokasi tersebut cukup membuat mata "melek", karena kalau kita perhatikan dengan baik kita akan melihat kondisi alam yang sulit buat dilupakan. Melewati dua danau kembar yang dinamakan Danau Diatas dan Danau Dibawah. Dinamakan demikian karena memang letaknya yang bertingkat, namun apabila dilihat dari pinggir jalan lintas yang akan tampak hanya Danau Diatas, karena letak Danau Dibawah yang agak menjorok ke dalam dan berbeda dari Danau Diatas yang permukaannya tampak berwarna biru, Danau Dibawah permukaannya justru tampak berwarna hijau pekat yang menandakan bahwa dasar danau tersebut sangat dalam.

Lepas dari pinggiran Danau, yang kita lewati selanjutnya adalah kecamatan Alahan Panjang kabupaten Solok. Saya termasuk terkesan dengan daerah ini, mengapa demikian? karena daerah ini merupakan tempat kelahiran Mohammad Natsir(1908) yang juga merupakan tempat beliau dibesarkan dengan kehidupan yang penuh perjuangan hingga beliau bisa benar-benar tumbuh sebagai seorang tokoh Muslim Negarawan. Selain itu daerah ini juga memiliki tanah yang subur, dari pinggiran jalan kita akan melihat terhampar perkebunan teh, dan berbagai sayuran yang ditanam berjajar, dan saya pikir merupakan sumber daya alam yang cukup untuk mensejahterakan penduduknya. Keunikan lain juga bisa dilihat pada penduduknya, rata-rata orang-orang Alahan Panjang asli berkulit putih dengan wajah agak kemerahan pada pipinya apabila terkena sinar matahari. Hal ini bisa jadi memang disebabkan karena iklim daerah yang dingin.

Satu hal yang juga mengundang perhatian, banyak ditemukannya pertambangan disepanjang jalan menuju Surian. Perusahaan- perusahaan tambang yang ada sebagian besar merupakan perusahaan asing, dan miris rasanya melihat bahwa hasil bumi milik negara sendiri justru dikeruk oleh negara lain, padahal masyarakat Indonesia sendiri tidak pernah lepas dari kemiskinan.

Pada akhirnya saya sampai di Surian, merupakan daerah yang dingin, asri, dan tidak padat dengan penduduk. Satu-satunya SMU yang berdiri adalah SMU Negeri 1 Pantai Cermin yang terletak dikaki bukit disekelilingnya terhampar perbukitan, dan disinilah saya menghabiskan waktu 3 hari dengan kegiatan pesantren kilat. Dibarengi dengan meninjau beberapa lokasi yang merupakan kesempatan yang tidak boleh saya sia-siakan.

Selepas dari Surian, saya melanjutkan ke daerah Bukit Tinggi untuk mengunjungi acara pernikahan seorang akhwat teman saya, pengalaman selama perjalanan akan saya tuliskan pada judul selanjutnya.

Sekat, 14 Juli 2007

Thursday, June 28, 2007

Simply Dedicated To My Mother

To my mother....
my mother.... and my mother......!
Could I order one small of pieces of land in heaven
beneath your foot?

I miss you mom.....

Rindu..., 28 Juni 2007

Wednesday, June 27, 2007

Seberkas Sinar Kelam

Penambahan tsaqofah siyasi menjadi hal yang penting bagi seorang kader siyasi. Banyak hal dan sarana bisa dimanfaatkan kader untuk menambah wawasan. Membaca, Menuls, dan Diskusi menjadi kunci utama. Melalui bacaan yang bertingkat dan terstruktur kader akan mudah mengukur wawasan karena berkembang seiring dengan tingkat acceptabilitasnya pada referensi. Untuk aplikasi sekaligus mengasah referensi bacaannya dilakukan melalui pertemuan pada kajian-kajian atau diskusi rutinan dan hasilnya dituliskan dalam bentuk opini.

Sangat disayangkan apabila seorang kader siyasi tidak mampu memanfaatkan fasilitas-fasilitas yang bisa ditemuinya setiap saat yang sebenarnya kader hanya dituntut untuk "melek" dengan lingkungan dan kondisi kekinian disekitarnya, kondisi tersebut sangat kontras dengan label 'kader siyasi' yang melekat padanya karena bagaimana kemampuan siyasinya akan terasah apabila tidak pernah mengeluarkan pemikiran-pemikirannya dalam bentuk diskusi dengan orang lain serta kooperatif untuk menerima pemikiran-pemikiran orang lain yang penting untuk proses perkembangan pemikirannya.

Fenomena yang ada saat ini terutama disekeliling saya didapatkan justru menurunnya intensitas diskusi kader terutama menyangkut hal-hal yang berbobot dan menambah wawasan. Terkadang yang ada justru pembicaraan yang tidak berarti dan mengarah kepada ghibah, na'udzubillah min dzalik.

Sebenernya kenapa hal ini bisa terjadi?

1. Sikap 'cuek' dan acuh tak acuh sebagian besar kader pada program-program kerja penting yang menyangkut program pemenuhan tsaqofah.

2. Kurang aktifnya kader dalam meng-acces informasi dan berita-berita terbaru.

3. Kader yang tidak percaya diri untuk mengeluarkan pemkiran-pemikirannya dalam setiap forum diskusi.

4. Tidak adanya motivasi diri dan keinginan untuk terus mengembangkan diri, atau mungkin apakah justru kader merasa puas dengan keadaan diri sendiri?wallahu alam

Miris dan naas saat didapatkan pada acara-acara kajian dan diskusi sepi dari peserta, sebaliknya untuk acara-acara yang bentuknya jalan-jalan justru lebih diminati. Mudah-mudahan hal ini bisa menjadi evaluasi bagi saya saat sebuah acara yang diangkatkan dan diharapkan bisa menjadi seberkas sinar cerah dalam menyelesaikan problem organisasi dan keterbatasan wawasan kita, sebaliknya justru menjadi kelam karena ketidakhadiran personil-personilnya. Wallahu'alam bishawab


Kondisi blank, 27 juni 2007





Thursday, June 7, 2007

Berpolitik Dengan Landasan Ibadah

Sebagai Mahluk sang Khaliq sudah menjadi kerwajiban untuk beribadah,karena memang untuk itulah manusia diciptakan. Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an Surat Adz-dzariyat ayat 56 yang artinya : "Dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". Maka jelas bahwa kehidupan ini tidak bisa dipisah-pisahkan dari ibadah, serta menjadi satu kesatuan yang utuh. Tidak bisa terjadi parsialisasi menyangkut bagian-bagiannya.

Shalat, Puasa, Zakat yang dilakukan menjadi sia-sia bila tidak termanifestasikan dalam kehidupan dan kegiatan perpolitikan. Karena dengan shalat setiap Individu akan senantiasa dekat dengan Rabb-nya sehingga tercermin pada setiap kata-kata, tingkah laku, dan perbuatan. Begitu juga dengan Puasa dan Zakat yang dilakukan mengajarkan untuk melihat realitas masyarakat di sekitar dengan nurani yang mendorong untuk terus berbuat kebajikan dengan keikhlasan.

Yang menjadi Feedback dari moralitas pelaku politik ini adalah mampu menguatkan sendi-sendi ibadah masyarakat, karena perilaku yang ditonjolkan dari para pelaku politik merupakan perilaku yang tidak bertentangan dengan prinsip Ubudiyah. Diikuti dengan niat ikhlas Ibadah karena Allah SWT.



"Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang ia pun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kesayangan-Nya" (An-Nisa;125)



Keyakinan bahwa setiap perjuangan akan digantikan dengan kenikmatan pahala dan Syurga-Nya kelak akan menjadi motivasi pribadi dalam melakukan aktivitas politik, sehingga yang terfikir hanyalah bagaimana berbuat yang terbaik untuk kemaslahatan masyarakat secara umum serta umat secara khusus. Hanya untuk Allah kita persembahkan tenaga, waktu, pikiran, harta, dan segala kesungguhan, dengan tujuan agar tegak Islam di muka bumi.

Maka jadilah insan-insan perpolitikan yang bisa mempersembahkan yang terbaik untuk Allah SWT dan kejayaan Islam dengan berbekal takwa, karena Allah SWT tidak memandang posisi kita sebagai apa dalam bidang sosial dan politik akan tetapi lebih pada ketakwaan dan keikhlasan dalam menegakkan kebenaran. Wallahu'alam bishawab.

Saturday, May 19, 2007

Nasihat Seorang Misterius

Beberapa hari ini saya dikejutkan dengan sms-sms misterius dari seseorang tanpa nama, inisial, atau apapun yang berkaitan dengan identitas, hanya nomor asing yang bisa jadi "free number". Tapi sebenarnya bukan hal itu yang penting buat saya, tapi isi di dalam sms tersebut yang membuat saya tertohok. Nasihat-nasihat yang pedas dan sangat menghujam dalam, awalnya saya sakit hati tapi setelah saya mencoba merenungi lagi tidak patut rasanya apabila saya marah atau kecewa, bukankah dia mencoba mengingatkan saya? Pikiran-pikiran negatif yang muncul justru akan membuat kita tidak bisa berfikir bijak dan cenderung mengedepankan emosi. Biarpun orang yang memberikan sms tersebut dengan cara atau bahasa yang tidak baik, namun hal itu merupakan usaha dia untuk mengingatkan kita bagaimanapun caranya. Saya mencoba berfikir bahwa ini adalah pelajaran buat saya menerima kekurangan orang lain dalam berkomunikasi sekaligus mengajari saya untuk lebih baik dalam berkomunikasi dengan orang lain. Siapapun orang tersebut mudah-mudahan ini justru menjadi proses pendewasaan bagi saya. Dan juga buat dia yang telah mengirim sms, mudah-mudahan Allah SWT memudahkan urusannya dimanapun dia berada.